MENU

Keberhasilan Anak Pekerja Migran Indonesia Menembus Universitas di Kanada

Keberhasilan Anak Pekerja Migran Indonesia Menembus Universitas di Kanada

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) membuka program beasiswa Indonesia Maju Angkatan 1 kepada peserta didik kelas XII jenjang SMA/SMK/MA/sederajat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di perguruan tinggi luar negeri melalui jalur prestasi.

Salah satu peserta didik Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Riska yang merupakan anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) berhasil menjadi penerima beasiswa tersebut dan dinyatakan lolos di University of British Columbia program Bachelor of Arts. Riska mampu bersaing dengan 1000 peserta lainnya dari seluruh penjuru negeri untuk mendapatkan 160 kuota beasiswa yang ditetapkan Kemdikbudristek.

Capaian Riska ini tidak terlepas dari prestasi yang ditorehkan selama menjadi peserta didik di SIKK. Salah satunya yakni menjadi finalis Kompetisi Sains Nasional bidang Geografi tahun 2021 tingkat nasional. Selain itu, Riska pun aktif mengikuti berbagai pelatihan dan perlombaan jenjang SILN maupun nasional. Prestasi-prestasi inilah yang menjadi bekal Riska untuk mengikuti program Beasisiswa Indonesia Maju ini.

Menanggapi keberhasilan yang diperoleh Riska, Kepala SIKK Dadang Hermawan, M.Ed. menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas torehan prestasi salah satu peserta didik terbaiknya. Beliau meyakini capaian ini merupakan buah dari semangat dan kerja keras Riska serta dukungan dari guru-guru SIKK yang senantiasa mendorong untuk terus mengasah kemampuan dan kompetensi yang dimiliki setiap peserta didik. Terbukti, sebelumnya juga sebanyak 39 peserta didik SIKK telah diterima di berbagai universitas negeri di Indonesia melalui jalur SNMPTN, SNMPN dan SPAN, serta satu peserta didik berhasil lolos di Universitas Gadjah Mada melalui seleksi mandiri.

“Semoga capaian ini bisa menjadi inspirasi dan pemantik semangat bagi peserta didik lainnya untuk berprestasi sehingga berkesempatan mendapatkan beasiswa serupa di masa yang akan datang,” ujar Dadang.

Motivasi Riska mengikuti beasiswa Indonesia Maju didasari oleh keinginannya melanjutkan sekolah di luar negeri untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang terbaik dan belajar dari berbagai perspektif budaya sehingga pikirannya bisa semakin terbuka. Selain itu, dia juga percaya bahwa melalui pendidikan yang tinggi dapat mengangkat status sosial keluarganya.

Selama tahap seleksi yang ketat, Riska dibimbing oleh guru-guru SIKK yaitu Masayuki Nugroho, Ahmad Arif Febriyanto, Dede Kurniawan, Susmin Ito dan Muh. Dliyaul Haq untuk mempersiapkan persyaratan beasiswa mulai dari administrasi, pembuatan esai, hingga persiapan wawancara.

Menurut Riska, pembuatan esai merupakan persyaratan yang paling memerlukan persiapan matang. Oleh karena itu, Riska menuliskan sudut pandangnya dalam esai berdasarkan fakta-fakta dan fenomena sosial dengan menggunakan bahasa yang lugas dan efektif. Dia menyampaikan keinginannya untuk berkontribusi pada negara Indonesia dalam bidang kebijakan publik terkait perlindungan anak-anak PMI dan perluasan akses layanan pendidikan  melalui Sekolah Indonesia Luar Negeri agar kesempatan anak-anak PMI untuk mengenyam pendidikan semakin mudah.

Masayuki Nugroho selaku salah satu pembimbing mengatakan bahwa dengan tanggung jawab yang tinggi dan didukung kemampuan bahasa Inggris yang baik, Riska mampu menyelesaikan seluruh rangkaian seleksi meskipun ada kendala yaitu waktu seleksi yang bersamaan dengan Ujian Sekolah dan jaringan internet yang tidak mendukung di rumahnya sehingga proses seleksi wawancara harus diulang. Tetapi, berkat kordinasi yang baik kendala-kendala tersebut dapat diatasi.

“Kelebihan Riska dapat mengikuti setiap intruksi yang disampaikan dengan baik, namun dalam proses bimbingan kadang terkendala jaringan karena 70% dilaksanakan secara daring,” ungkap Masayuki.

Setelah melewati seleksi yang panjang, pada Mei 2022 akhirnya Riska mendapatkan hasil yang diharapkan yaitu lolos seleksi Beasiswa Indonesia Maju Angkatan 1 (gelombang ke-2) dan diterima di universitas pilihannya. Melalui beasiswa ini biaya pendidikan dan biaya hidup Riska selama proses perkuliahan ditanggung oleh Kemdikbudristek.

Riska mengatakan bahwa hasil ini tidak terlepas dari dukungan orang tua dan bimbingan guru-guru SIKK. Dia juga berharap dapat memaksimalkan kesempatan ini  untuk berkontribusi pada negeri melalui ilmu pengetahuan yang didapatkan selama menempuh pendidikan.

Humas SIKK

KOMENTAR